Pages

Kenapa ketinggalan pesawat (the cronologies...)


Well ... ini kenapa saya tertinggal pesawat, saya merencanakan liburan mendadak, 4D3N, ke Singapura dan Pulau Penang, via Johor Bahru Malaysia. Gara-garanya ada penawaran tiket murah dari Air Asia, satu bulan sebelum keberangkatan.

Salah Satu Sudut Kota Penang
Iseng sih cek harga tiket pas hari libur, biasanya gak pernah dapet, tapi ternyata takdir mengantarkan saya untuk liburan di Bulan Oktober, pas Hari Raya Idul Adha. Awalnya sih mau ke Singapura saja, tapi seperti yang sudah diceritakan teman-teman, disana wisatanya kebanyakan gedung dan tata kota serta kenyamanan transportasi. Untuk wisata alam bukan menjadi pilihan tepat.

Dengan alasan itulah saya putuskan untuk berkunjung satu hari saja di Singapura, kemudian di lanjut ke Penang. Sebuah pulau yang berada di Barat Laut Malaysia, dan saya sudah lama teracuni oleh tulisan Mas Ariy – penulis traveler hebat asalSolo -. Saya ingin sekali ke Penang, karena banyak wisata heritage dan Penang Hill adalah spot yang menarik saya untuk berkunjung

Okey.. sekarang saya berkisah tentang kenapa ketinggalan pesawat, gara-garanya saya kurang disiplin. Saya berangkat dari Singapura ke Penang dengan pesawat pagi, tiba disana sudah menjelang siang. Rencananya hari itu explore Penang yang diatas bukit dulu, Penang Hill, kemudian sorenya sekitar kawasan heritage UNESCO, dan besok pagi santai-santai di hostel lanjut cabut ke KL untuk kembali terbang ke Surabaya

Ternyata, saya terbius oleh kecantikan Penang Hill, benar kata Mas Ariy, I do LovePenang, dan dua hari itu tidak cukup. Saya berjanji, suatu saat kembali lagi ke pulau ini. Jadwal sedikit berantakan, karena saya terlalu letih setelah sehari penuh jalan kaki di Singapura, dan lanjut ke Penang. Saya lebih banyak duduk menikmati pemandangan Pulau Penang dari puncak bukit.
Lalu sorenya, saya batalkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah saya jadwalkan. Setelah makan sore di Kedai India, saya memutuskan kembali ke hostel untuk beristirahat, hari sudah mulai gelap dan saya pun terlelap.

Rencananya esok hari, bangun pagi-pagi terus ke kantor pos laju Malaysia, karena saya gak sempat ketemu Buyer di Ipoh Malaysia untuk mengantar order, kemudian lanjut jalan-jalan. Eee bener-bener manusia berencana Tuhan yang menentukan. Saya terlambat bangun, karena kecapekan, udah gitu.. saya berleha-leha di hostel, karena sarapan baru ada jam 8 pagi, itupun cuma segelas teh / kopi dan roti, telur yang dijanjikan eh ternyata gak ada.

Lepas breakfast saya masih malas-malasan, malah bbm-an dengan akses wifi dari hostel, baru jam 9 pagi saya keluar ke kantor pos, dan setelah itu mengunjungi tempat-tempat heritage yang konon katanya masuk daftar UNICEF. Penang benar-benar membuat saya lupa diri, kotanya tidak terlalu besar tapi semuanya tertata rapi bahkan gedung-gedung peninggalan dijaga dengan baik, beda sekali dengan Surabaya :D (semoga Bu Risma baca tulisan ini ya hehe).

Makanan di Penang benar-benar menggoda iman, meski saya belum dan tidak punya kesempatan banyak untuk mencoba semuanya, yang jelas seafood nya sudah beberapa saya cicipi.. yeaaa I am seafood lover! Siang itu Penang terik sekali, tapi saya enjoy saja berkeliling, saya duduk berlama-lama di Esplanade – Padang Kota Lama, sebuah lapangan yang sebenarnya alun-alun kota, namun berada di tepi laut. Udara panas pantai dipadu dengan rindangnya pepohonan membuat suasana terasa damai sekali.

Pejalan Kaki di Penang
Jam 11 siang saya memutuskan pulang ke hostel untuk bersiap-siap, perjalanan pulang ke hostel sebenarnya bisa ditempuh dengan bus atau taxi, tapi saya memilih berpetualang ala Dora dengan peta di tangan, menyusuri lorong-lorong Kota Penang. Walhasil satu jam baru sampai hostel, lanjut re-packing backpack untuk segera menuju ke KL dengan bus. Sayangnya ketika itu saya tidak segera bergegas, karena udara cukup panas saya masih malas keluar, saya justru berleha-leha di lobby hostel sembari menikmati secangkir es kopi dan lagi-lagi bbm-an dengan akses wifi.

Pukul satu siang saya pamit meninggalkan hostel, awalnya saya akan menuju Jeti tempat penyeberangan ferry ke Butterworth tempat Bus ke Kuala Lumpur berada, tapi pemilik hostel menyarankan untuk mengambil jalur Penang – Kuala Lumpur via jembatan, karena lebih cepat katanya. Dan untuk itu saya disarankan ke Komtar, salah satu pusat kota Pinang yang juga berdampingan dengan terminal bus.

Akhirnya saya mengikuti saran pemilik hostel, sebenarnya jarak antara hostel ke Jeti (Pelabuhan Fery) lebih dekat daripada Komtar (Terminal Bus), tapi karena saran darinya ya saya turuti saja.. disana memang banyak agen-agen penjualan tiket bus menuju berbagai kota di Malaysia. Oh ya.. untuk teman-teman yang belum pernah ke Malaysia, sistem penumpang dan perjalanan menggunakan bus tidak sama dengan yang ada di Indonesia pada umumnya, disana bus antar kota hanya tersedia pada jam-jam tertentu, dan itupun menggunakan tiket. Jadi jangan harap bisa naik bus di pinggir jalan seperti kita pas mau ke Surabaya – Malang, disana tiket bus dijual oleh agen yang juga pemilik armada langsung, sudah ada harga terpampang, kita bisa memilih P.O mana yang akan kita tumpangi, satu agen menjual satu tiket P.O. sistemnya kurang lebih sama seperti menumpang bis malam jarak jauh di Indonesia, penumpang sudah ada tiket dan nomor kursi, di dalam bus tinggal tidur :D

Nah sesampai di Komtar, kurang lebih 25 menit, saya langsung mencari tiket bus ke Kuala Lumpur. Alaamaaaak... celaka tigabelas hampir semua tiket bus ke Kuala Lumpur terjual habis, maklum kala itu liburan long weekend Idul Adha, jadi banyak warga Malaysia sendiri yang pulang kampung. Tiket yang tersisa hanya pada pukul 4 sore, menurut petugas tiket lama perjalanan kurang lebih sekitar 4 – 5 jam, tergantung kondisi lalu lintas.  itu artinya saya baru bisa sampai Kuala Lumpur sekitar jam 9 malam atau bisa-bisa jam 10 malam, sedangkan pesawat saya 9.25 (seingat saya waktu itu)

Seluruh pintu agen penjualan sudah saya masuki, dan hasilnya nihil tiket yang tersisa hanya jam 4 sore, saya mencoba bertanya kepada penduduk lokal, sarannya saya disuruh pergi ke Jeti pelabuhan fery dan menyeberang ke Butterworth.. O la laaa kenapa tadi saya tidak mengikuti rencana saya sendiri. So jika kawan sudah yakin dengan itinerary yang sudah dibuat sejak di tanah air, dan info-info dari situs terpercaya, maka jangan sekali-kali merubahnya kecuali anda punya waktu panjang! #tips

Berlari sekuat tenaga dengan backpack segede gaban, belum lagi ditambah “beban bawaan badan” heheh biasanya saya tidak kuat lari tapi kali ini saya terpaksa lari demi pesawat. Penyeberangan fery di Penang hampir sama dengan penyeberangan Selat Surabaya – Madura, tapi anehnya penumpang pejalan kaki tidak dikenakan tiket, saya mengikuti penumpang lain berbaris, kemudian ketika pagar dibuka kami langsung masuk. Saya kaget karena berada di satu dek dengan mobil-mobil yang juga akan menyeberang, dan tidak ditarik karcis.
Penang dari Kejauhan
Kemudian saya bertanya kepada seorang bapak, apakah ini tidak bayar? Dia menjawab bayar kok nanti sampai di Butterworth, tapi sampai di sana saya juga tidak melihat penjaga tiketnya. #heran! Saya langsung menuju ke terminal bus, dan mencari tiket menuju ke Kuala Lumpur, jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, awak bus yang pertama kali menemui saya menawari tiket seharga RM 35 tapi berangkat paling awal jam 3.30 karena semua tiket untuk yang jam 2 atau 2.30 sudah habis terjual

Saya bilang, saya harus berangkat sekarang karena pesawat saya jam 9 malam, akhirnya saya dibantu mencari tiket di agen lain. Lagi-lagi celaka! Semua tiket habis terjual untuk keberangkatan pukul 2 siang. Dan ketika saya kembali ke agen pertama, tiket jam 3.30 juga sudah habis... Aihhhh!



Sambil terus mencari, lidah saya tak henti berdoa dan istighfar agar dipermudah perjalanannya. Dan akhirnya saya menemukan satu agen yang berada paling ujung sendiri, keberangkatan jam 3 sore, dan si mbaknya bilang waktu tempuhnya 4 jam, okelah kalau begitu DEAL! Lelah berlari dan mencari, saya berkeliling mencari bangku kosong di dekat “platform” (jalur bus) yang ditunjuk, supaya tidak susah nantinya kalau bus berangkat. O..ooo tidak ada bangku kosong, semua penuh, terpaksa menunggu sambil berdiri, beruntung beberapa menit kemudian ada orang yang berangkat, dan bangku kosong didekat nenek tua yang tiba-tiba menceracau saya kuasai.

Sebenarnya saya malas untuk duduk disebelahnya, karena dugaan saya si nenek ini pikun atau sedikit stress hingga ngomel semaunya seperti orang marah-marah. Apa boleh buat badan sudah tidak bisa diajak kompromi. Ketika saya duduk, si Nenek hanya mengerling, sedangkan semua orang memandang ke arah kami, saya sih cuek aja toh juga nenek-nenek paling-paling kalau lagi marah saya kena pukul.

Semakin lama si Nenek semakin lantang ngocehnya, sesekali berhenti kemudian melihat saya, dan bertanya mau kemana dengan bahasa Melayu yang susah saya mengerti. Kemudian ketika marahnya reda dia bertanya lagi, tapi saya tidak tahu apa. Balas saya bertanya balik, mau kemana Nek, dia menjawab tapi saya juga kurang jelas. Naaah ini nih pertanyaan bodoh yang saya lontarkan :
“Nenek sendiri saja.. tunggu siapa disini?”
“Ya tungguu baasss laaah wmxmmxmwnmnfmn wehhajghgwege...” panjang menceracau telak jawabannya membuat seluruh orang tertawa. Dan saya pun juga ikutan nyengir kenapa tanya macam-macam. Lalu si Nenek tiba-tiba melotot melihat saya nyengir-nyengir, dia langsung geram bertanya “Apa gelak-gelak..jangan gelak-gelak...?!”

Hupsssfhh jantung saya hampir copot, saya menahan geli dan orang-orang disekitar juga kasihan melihat saya, tapi selamat .. akhirnya si nenek ngeloyor pergi sambil terus menceracau, diganti penumpang lain yang berebut duduk. Saya bertanya kepada orang disamping saya, apakah nenek itu gila? Hahahah jawabannya tidak tahu, tapi mungkin. Hmm nasib!

Mendekati jam 3 sore, pengurus armada bus memanggil saya untuk bersiap-siap karena Bus akan tiba. Girangnya hati mengetahui akan berangkat, dan tepat jam 3 sore saya sudah duduk manis dalam bus, ternyata bus yang saya tumpangi adalah bus Dari Hat Yai Thailand menuju Kuala Lumpur, hanya ada empat bangku yang kosong, lainnya penuh sesak.

Saya membunuh waktu perjalanan dengan lebih banyak tidur, karena sejak dari Singapore kurang istirahat. Tetapi galau saya juga masih belum reda, karena saya terlewat Sholat Dzuhur, masih khawatir apakah bisa mencapai KL tepat jam 7 malam. Tiba-tiba bus berhenti, dan supir bus berteriak .. toilet ..toilet.. boleh sembahyang juga.. Ahaaa senangnya saya, karena memang sejak tadi menahan pip, dan ada kesempatan solat jamak Dzuhur – Ashar.

Perjalanan dilanjutkan, tapi celakanya selang beberapa menit kami terjebak macet, karena ada kecelakaan di toll, yang menyebabkan lalu-lintas padat, berjalan bergantian karena ada proses evakuasi. Aduhhh level cemas saya sedikit naik, tapi saya berusaha untuk tenang dan beristighfar sebanyak mungkin.

Lolos dari kemacetan, bus kembali melaju, dan tanpa saya sadar penumpang depan dan samping kursi ternyata berasal dari Indonesia, SURABAYA juga tepatnya, kami saling ngobrol dan ini mampu mengurangi sedikit ketegangan saya. Upss apa lagi ini, bus tiba-tiba berhenti, dan supir berteriak ... Toileet toileeet... saya turun setengah berlari, untuk menghemat waktu, tapi sayangnya ada salah satu penumpang yang lamaaaaa bangett >_< ternyata si Ibu solat magrib dan tidak ngomong ke supir, aduhhh jam sudah menunjukkan pukul 7, tapi Kuala Lumpur masih belum juga nampak..

Waktu terus berjalan.. hampir setiap pergantian menit saya tidak pernah berkedip, tapi parau menelan ludah. Benar kata Yuri, teman SMA saya dulu.. kalau orang sudah diburu waktu, secepat apapun supir bus melaju, rasanya lambat kaya keong.. sayang saya gak bisa nyupir bus.. kalau bisa sudah saya ambil hahaha.. Jam 8 malam, bus sudah masuk kawasan Kuala Lumpur, dan saya langsung maju kedepan, dikira minta berhenti, eh ternyata pas dekat KL Sentral, jadi saya tidak perlu turun di Pudu Raya.

Lariiiiii .. LRT yang saya tuju masih di Pasar Seni, masih satu stasiun lagi sampai KL Sentral.. aaaghhh... gugup didepan mesin tiket LRT membuat sedikit macet, uangnya gak mau masuk ...aduhhh kaaah!. Sampai di KL Sentral, saya berlari ke penjualan tiket, dan kata si penjaganya masih ada kereta kesana, langsung di cetak tiket .. 12,5 RM .. O lalala lagi2 saya ceroboh.. duit Ringgit sudah habis, yang ada tinggal 10 RM saja.. aduhhh pengen rasanya saya minta dibayarin.. trus saya tanya kira-kira sampai sana jam berapa.. Jam 9.50 katanya, haaaaaaaaaaaaah...? pesawat saya jam 9.25 (pikir saya saat itu)..
Kepak Pesawatku

Saya ngloyor lemes menuju ATM, setelah mengambil beberapa ringgit saya justru tidak jadi beli tiket ke LCCT, malah saya mencari warnet di KL Sentral, karena pernah saya baca disitu ada. Nah ketemu warnetnya lumayan murah dibanding di LCCT, satu jamnya 2RM, di toko buku lantai atas. Saya sibuk searching ticket...ahh gilaa semua tiket mahal.. otak saya macet.. dan tambah macet ketika saya buka e-mail dari Air Asia kalau penerbangan ternyata bukan jam 9.25, tapi 9.45... persis 5 menit sebelum saya datang...

Agggghhhh seandainya tadi lepas dari ATM saya langsung cabut ke LCCT.. mungkin saya masih bisa mengejar.. meski tidak mungkin.. at least saya bisa dadahhggh bye bye ke pesawat seperti yang dilakukan Mbak Candy pas waktu ketinggalan kereta ekonomi ke Jakarta... jreeeengg itulah kisah saya.. bagaimana kisahmu? hihih


Share this:

CONVERSATION

4 komentar:

  1. Hahaha... tertawa sambil membayangkan tiap adegan yang dilewati-mu jeng ;) benakku langsung penuh dengan imajinasi. Yup, satu hal yang pasti jika sudah membuat itinerary, laksanakan, jangan ubah sedikitpun karena itu pasti akan berimbas ke semua rencana. Glad that you can home safely jeng ;) and definitely it will be a lovely story to tell anytime :D

    Eva

    ReplyDelete
  2. hahaha bangett Mbak Eva.. itulah gak enaknya pergi sendiri..
    kalau ada apa2, apalagi seperti saya yang suka panikan, bawaannya udah desperado gitu.. xixixi

    ReplyDelete
  3. Ahahahahaha yaa sebagai pembelajaran deh yakkk, hanya bisa ngakak dan semogaaaaaaaaaaaaaaaaaa gak kejadian sama gueeeee

    ReplyDelete
  4. preeeettt... ati2 yoo aku juga dulu ngetawain temen2ku yang ketinggalan kereta hahahaha.. akhirnya kena dewe.. tapi kalo si Pangeran Alid.. mah udah jagooo..xixi ditunggu cerita Jepangnya :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)