Pages

Kemegahan Masjid Akbar Surabaya dan ironi Menara 99 meter

Turis Asal Sarawak Malaysia
Masjid Agung yang terletak di selatan Kota Surabaya, dengan kubah yang super besar berwarna paduan hijau toska dan biru membuat Masjid ini dikenal turis asing dengan sebutan Blue Mosque, layaknya salah satu nama Masjid Indah di Turki yang juga mendapat julukan sama karena warna dominannya adalah biru tua. Warna yang anggun dan bangunan yang elegan, sayangnya tidak se-anggun dan elegan pelayanan petugas-petugas yang saya temui disana ketika menghadapi pengunjung.
Masjid Al Akbar Surabaya atau biasa disingkat MAS merupakan salah satu Masjid terbesar di Indonesia bahkan kabarnya hingga se-Asia Tenggara. Saya sudah sangat sering datang ke tempat ini, entah itu berkunjung untuk mampir Sholat ketika perjalanan, atau mengantar teman dari luar kota, bahkan mengantar turis asing yang datang ke Surabaya.

Saya akui, desain dan suasana di MAS bisa dibilang indah dan megah jika dibandingkan masjid-masjid yang pernah saya kunjungi di Surabaya. Tapi yang membuat saya kurang nyaman adalah "kesan kurang bersahabat" yang saya tangkap dari awal memasuki pagar .. ah atau ini hanya perasaan saya saja yang terlalu melebih-lebihkan.

Pertama kali berkunjung ke MAS, entah kapan tepatnya saya lupa, yang pasti saya ingat adalah ketika pertama kali membawa turis asing kesana, saya sempat diberhentikan oleh satpam, dan ditanya darimana asal turis tersebut, dan apakah dia Muslim, jika bukan muslim maka tidak boleh masuk ke Masjid. Fiuhhh itu terjadi beberapa tahun lalu, hingga sempat terlontar kata tersinggung dari teman asing saya, I am not gonna go inside the mosque!

Selain masjid yang super luas dan super megah, salah satu spot yang paling banyak dikunjungi warga adalah, wisata menara 99 meter yang dibangun terpisah dari gedung utama. Menara setinggi 99 meter merupakan bangunan tertinggi di Surabaya dengan 3 lantai. Dari lantai ke-3 kita bisa melihat Kota Surabaya dari Ujung Utara - Selatan - Timur dan Barat, bahkan kita bisa melihat pulau Madura dengan Jembatan Suramadunya yang terkenal.

Untuk bisa melihat Surabaya dari atas menara, kita cukup membayar tiket masuk naik lift seharga Rp. 5,000/orang sedangkan untuk anak-anak dikenakan tarif Rp. 3,000/anak. Berdasarkan papan informasi yang dipasang, wisata menara dibuka setiap hari Senin - Sabtu mulai jam 8.00 - 16.00 sedangkan hari Minggu dibuka mulai jam 07.00 - 16.00

Tapi dari beberapa kali saya berkunjung kesana, masih saja sama, jam buka wisata menara seringkali tidak tepat waktu seperti yang tertera. Alasan yang selalu dilontarkan, petugasnya sedang bersih-bersih, atau sedang ambil gaji, sehingga kami terpaksa menunggu hingga pukul 9 bahkan kemarin, ketika saya sedang membawa turis asal Canada, kami harus menunggu hingga pukul 10, dan itupun sempat terjadi kericuhan kecil antara saya dan petugas keamanan disana

Kronologinya, saya datang bersama empat orang turis dari Canada pada tanggal 18 Januari 2014 hari Sabtu, rata-rata mereka berumur 60 - 75 tahun. Mereka sedang menikmati liburan masa pensiun dengan kapal pesiar, yang sedang sandar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Seperti kapal pesiar pada umumnya, mereka hanya memiliki waktu kurang lebih 5 - 6 jam untuk meng-explore kota yang dikunjungi. 

Sebelum hari-H, mereka telah memesan paket tur kelana kota Surabaya kepada saya, dan ingin melihat sisi lain Kota Metropolis yang tidak bisa mereka lihat di Canada. Masjid adalah salah satu tempat yang ingin mereka kunjungi. Dan akhirnya saya membawa mereka ke Masjid Al Akbar Surabaya, karena tertarik dengan wisata menara 99 meter

Seperti yang saya cemaskan, pihak pengelola wisata menara belum juga stand by di tempat pada jam yang tertera, sehingga saya membawa mereka berkeliling. Sambutan dari petugas sekuriti menurut saya kurang ramah, dibandingkan dengan petugas wisata masjid di Malaysia ataupun Singapura. Mereka seolah menyayangkan penampilan turis saya yang berpakaian "tidak rapi" karena berbaju tanpa lengan dan celana selutut. Salah satu petugas keamanan meminta saya untuk langsung menuju ke pos mereka bilang .."Mbak langsung ke pos dulu ya .. itu bajunya masak seperti itu mau ke masjid" 

Saya meng-iya-kan perintah mereka, bukannya saya tidak tahu aturan MAS tentang baju yang harus dikenakan, tapi cara mereka menyampaikan kepada tamu asing itu kurang elegan menurut saya. Karena mereka memang sedang menikmati wisata daerah tropis, dan mereka tidak tahu bahkan tidak mengenal yang namanya masjid.. alangkah manisnya jika kita menyampaikan dengan "redaksi yang lebih menarik" misal :  .. maaf ya mbak silahkan menuju pos untuk mengisi buku tamu dan mengenakan jubah tamu ... itu mungkin terdengar lebih nyaman di telinga dan lebih elegan bukan?

Sebelum menuju pos satpam, saya meminta ijin untuk mengantar mereka ke kamar mandi, karena cuaca Surabaya mendung, ditambah suhu dalam mobil yang cukup dingin dengan AC membuat tamu saya ingin segera bertemu toilet. Sebenarnya menjadi tour guide itu tidak melulu mengantar mereka berkeliling lalu dapat uang, tapi pekerjaan ini saya sukai karena saya bisa mengenalkan banyak hal tentang Indonesia, budaya, seni bahkan tentang agama.. next yaa saya akan menulis tentang ini :)

Setelah mengisi buku tamu dan memberikan jubah, kami memutuskan untuk berkeliling masjid, karena menara belum buka. Saya sempat berpesan, Pak minta tolong ya pak untuk dipanggilkan yang jaga, karena tamu saya tidak bisa lama disini, harus kembali ke pelabuhan sebelum jam 12 siang. Lah kok mereka malah menjawab, "Gak bisa mbak, hari ini hari olah raga, petugasnya masih olah raga, nanti jam 9. Coba kalo datang besok sudah buka jam segini" 

Hmm entah solusi macam apa itu, sambil terus berkeliling saya berdoa harap-harap cemas, semoga petugas yang sedang jogging segera kembali. Dan pukul sembilan telah lewat tiga puluh menit yang lalu, kami berdiri di depan pintu menara, masih saja belum buka. Seorang petugas yang mengantarkan kami berkeliling sejak tadi juga sudah berkomunikasi melalui "walky talky" menanyakan kesiapan dan keberadaan petugas menara tapi jawabannya masih sama nihil

Kali ini saya memohon lebih sering kepada petugas seperti anak kecil yang sedang merengek. Saya juga coba menjelaskan kepada turis saya kalau petugasnya belum datang karena masih berolahraga, mereka pun masih tetap ingin naik ke menara menunggu sebentar. Sebenarnya yang antre untuk naik ke menara bukan cuma kami, ada beberapa pengunjung lokal yang ingin naik, tapi mereka tidak seperti kami, mereka lebih punya banyak waktu luang, sehingga cuek-cuek aja menunggu petugas yang entah kemana ini.

Pak sekuriti yang baik tadi akhirnya mencoba mencarikan petugas di UPT Masjid, katanya ada disitu sedang makan atau mengambil gaji. Saya mohon untuk segera, karena waktu kami tinggal 2 jam untuk segera kembali ke pelabuhan, sedangkan MAS adalah tempat kedua yang ada dalam daftar kunjungan turis saya. 
Lima menit kemudian, petugas kembali ke pintu menara, dan jawabannya masih sama, petugasnya lagi makan .. alamaaaaaak! sebal saya dibuatnya kenapa mereka memasang jam kunjungan jam 8 pagi, tapi baru siap jam 10 pagi.. ketika saya komplain .. jawabannya ya biasalah mbak Indonesia.. !

Menyedihkan sekali negeriku ini.. saya sempat beradu mulut dengan petugas, lalu ada perempuan yang entah itu pengunjung atau orang yang bekerja disana, menyeletuk begini .."Wani piro" istilahnya berani bayar berapa kalo mau naik menara..? emosi saya mulai naik.. karena saya kesana bawa turis asing, tapi perlakuan dan sikap mereka kurang menyenangkan. Saya pun balas menjawab, kalau seperti ini akan saya laporkan ke SS (salah satu stasiun radio ternama di Surabaya), eh si petugas menjawab iya silahkan laporkan saja seraya mengambil jubah dari saya.

Kemudian petugas yang baik tadi berbicara dengan entah itu kepala sekuriti yang berada di pos satpam, karena saya lihat dia takut dengan si bapak ini. Petugas itu melaporkan bahwa saya akan melaporkan hal ini ke radio SS, dan jawabannya juga sama silahkan laporkan. Saya semakin geram sekali, saya coba berbicara baik-baik via walky talky, berharap bapak ini bisa memberikan solusi, akhirnya saya datangi ke pos satpam.

Di pos satpam terlihat ada 3 orang yang sedang duduk-duduk, dua berseragam dan 1 orang berkaos hitam merah kalau saya tidak salah ingat. Saya berargumen dan memohon untuk dibantu, tapi jawaban mereka sama saja, tidak bisa hingga akhirnya mereka nadanya sedikit tinggi karena saya memaksa dibuka. Saya sampaikan kenapa tulis di papan buka jam 8 pagi, tapi sampai jam 10 pagi belum buka, mereka bilang ya harap maklum ini Indonesia, teknis di lapang seperti ini. Saya jawab seharusnya kan ada petugas pengganti kalau petugas utama berkendala. tapi jawabannya sama.. seperti robot yang di setting menjawab alasan sama berulang.. huuh capee dehh

Kesal membuat saya mengeluarkan gadget dan mengambil gambar, saya bilang saya akan tulis ini di media sosial. Yihaa dapat foto mereka! .. dan tahu apa reaksi mereka setelah saya foto .. tiga orang itu langsung berang, menyerang saya dengan kata-kata "kita ini sama-sama orang Indonesia kenapa berbuat seperti itu, anda ini tidak menghormati kami, bla bla bla..." Lah tadi kan si bapak nantangin untuk dilaporkan ke SS, sekarang saya ambil fotonya kenapa berang.. kan lumayan terkenal :p gumam saya dalam hati

Saya bergegas meninggalkan pos satpam, dan ternyata tiga orang ini mengikuti saya dari belakang, sambil berteriak minta foto itu dihapus, muka mereka sudah seperti orang kebakaran jenggot, dan kepala satpam itu berteriak untuk menutup pintu pagar, jangan membiarkan saya keluar, sampai foto itu dihapus.. haaaa! arogan kali kau bos!

Kericuhan satpam yang "Show off" itu terjadi hingga depan menara, dan disaksikan oleh orang Canada, saya juga berusaha terus berargumen, 4 lawan 1, saya mah jago kalo masalah begituan hahahah.. kebiasaaan di kampus dulu! saya berusaha untuk menjelaskan bahwa saya mengantar turis yang tidak bisa lama-lama disini, saya sudah datang sejak jam 8.30 hingga sekarang pukul 10.00 masih juga belum dibuka, dan saya bilang bukan saya saja yang antre untuk naik menara, saya tunjuk beberapa keluarga yang juga ingin naik. Salah seorang petugas itu balik menyerang saya, sampean itu bukan orang Indonesia, kalau orang Indonesia itu seperti ini (sambil menunjuk pengunjung lain) sabar mau menunggu!

Hhhhh rasanya mulut saya sudah ingin mengeluarkan sumpah serapah khas Surabaya, tapi saya berusaha untuk tetap cool menghadapi orang-orang seperti ini. Saya secara personal malu bukan kepada mereka, tapi saya malu karena bangsa saya bersikap seperti ini, dan disaksikan tamu asing. Rata-rata tamu yang saya bawa dari luar negeri adalah penulis.. Cobaaa bayangkan mereka menuliskan cerita ini di blog mereka.. alamak apa jadinya Surabaya? apa jadinya MAS? dan apa jadinya kesan mereka tentang Islam?

Yang lebih memalukan lagi, salah satu orang yang ikut dalam kericuhan itu, dengan pongahnya menyatakan bahwa dirinya adalah jama'ah masjid ini.. duhh heran saya kalau mereka bisa tepat waktu dalam Sholat berjamaah, lalu kenapa itu tidak dibawa dalam "gaya hidup mereka" untuk tepat waktu dalam bekerja?! sebuah ironi kan??

Akhirnya petugas datang, saya langsung menggiring naik turis saya ke menara, dan meminta maaf atas kejadian tadi. Dan mereka dengan senyum mau mengerti bahkan menghargai usaha saya untuk bisa naik ke Menara. Selain kami, ada juga pengunjung lain yang menikmati menara 99 ini. Kurang dari 10 menit kami memutuskan turun, dan meninggalkan MAS untuk menuju ke Masjid Cheng Ho

Dan o o.. ternyata nasib buruk menimpa, saya yang mengendarai mobil innova, tidak memperhatikan dibelakang ada mobil panther biru tua sedang parkir, ketika mengambil haluan mundur, body belakang innova "notol" ujung depan mobil panther, sebenarnya tidak ada luka atau kerusakan, karena posisi mobil sangat pelan. 

Saya melihat petugas karcis parkir langsung berlari ke pos satpam, dan melaporkan kejadian itu, ya langsung saja Satpam yang tadi berang kepada saya, memberhentikn mobil saya untuk mengusut tuntas kasus totol mobil hahahah.. kesaaal saya dibuatnya. Wah kali ini satu pleton datang :p .. kepalanya kepala sekuriti alias yang punya mobil keluar, dan saya "di interogasi".

Waktu itu tidak ada satpam ataupun petugas diarea parkir, hanya seorang sopir mobil avanza yang menunggu penumpang, dan tukang karcis parkir. Lah kok tiba-tiba petugas menunjuk body mobil panther yang memang sudah tidak mulus di beberapa bagiannya, mengatakan ini mbak ada yang tergores,.. Ehh eh langsung saja saya protes, Pak tadi bapak lihat gak kejadiannya?? saya mundur gak kearah situ, yang kena totol di bagian depan sini, dan itu semua yang ada disitu adalah goresan lama, bukan saya yang bikin, bapak silahkan cek mobil saya tidak ada yang rusak, jawab saya

Mereka bungkam, tapi si Bapak berkumis pemilik mobil malah balik tanya, situ ngrasa gak? saya bilang ya pak saya memang notol mobil bapak ketika mundur, dan kena mobil bapak, karena saya tidak kelihatan. Dia menjawab, masak mobil sebesar ini tidak kelihatan? saya jawab saya tidak kelihatan karena mobil yang saya bawa besar dan tinggi, saya minta maaf. Eh dia jawab oh gitu aja??

Hmmm Saya tahu arahnya kemana! lalu saya bilang ... lah kan tidak ada yang rusak, itu pun kerusakan yang ada bukan saya yang bikin, tidak ada yang perlu saya bayar. Saya sudah minta maaf dan saya harus pergi sekarang. Trus si Bapak itu mengungkit peristiwa tadi, menasehati saya jangan begitu lain kali, namanya juga di lapangan, teknis di lapangan beda dengan yang tercantum di papan.. Hellloowwwww kalau tidak bisa ngatur karyawan tepat waktu, belajar dulu deh pak makna sholat tepat waktu! 

Saya sebenarnya ingin memperpanjang cerita hehehe.. tapi mengingat turis saya butuh segera pergi dan berkunjung ke tempat lain, saya sudahai saja! Saya bilang pak permasalahan yang tadi itu sudah selesai, dan antara saya dengan si bapak kepala sekuriti tadi itu sudah saling minta maaf, dan saya juga berjanji untuk tidak menampilkan foto orang bersankutan, lah kok sekarang masih diungkit-ungkit lagi..

Kalau saya memang salah karena maksa masuk menara, oke saya terima .. tapi coba dong mereka juga intropeksi, dari hari ke hari kok masih saja sama pelayanannya??? ajak dong petugas itu jalan-jalan ke Malaysia kek or Singapore gituu biar ada wawasan.. atau kalau gak ada biaya ajaklah mereka kunjungan belajar ke Masjid Cheng Ho Surabaya, yang lebih baik mutu pelayanannya terhadap turis asing dan pengunjung..


Share this:

CONVERSATION

6 komentar:

  1. Kayaknya mental masyarakat di Indonesia memang masih parah sekali ya, Kak. Pengelolaan di Mesjid Raya Banda Aceh pun juga begitu. Untuk pengunjung non muslim tidak boleh masuk jika tidak menutupi aurat. Padahal apa salahnya jika pengelola mesjid menyediakan kerudung dan kain sarung untuk dipinjamkan. Lalu dengan beralasan buka telat dan bilang 'maklumlah di Indonesia' itu bikin kesal. Ah semoga ada perbaikan deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku ralat yah. Ternyata sekarang di Mesjid Raya Banda Aceh sudah ada Counter Jubah untuk pengunjung. Semoga mesjid-mesjid lain dapat mencontoh hal seperti ini.

      Delete
  2. Iya nih Citra bete banget... Alan iya aku sampe subur gara gara sabar haha

    ReplyDelete
  3. Yaa masjid bukan tempat wisata melainkan tempat untuk ibadah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk komentarnya, lalu bagaimana dengan kata-kata wisata religi .. ?? Masjid Ampel misalnya,

      masjid memang bukan tempat wisata seperti di pantai, tapi MAS itu membuka diri untuk dikunjungi sebagai salah satu ikon wisata di Surabaya mas hehehe.. bahkan di Malaysia dan Singapore banyak masjid yang boleh di kunjungi, di Turkey juga begitu.

      Justru masjid sebagai salah satu dakwah bagaimana mengenalkan islam yang damai, dan orang yang mengelolanya harusnya lebih terbuka, bukan malah menunjukkan sikap arogansi..

      Aduh mas ini ... pasti deh hidupnya kurang piknik :p

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, sampaikan salam anda disini ya :)