Ijen Festival Bondowoso - Miniatur Warna – Warni Budaya Dunia

Ijen Festival Bondowoso - Miniatur Warna – Warni Budaya Dunia


The Participants of Ijen Festival 2012
8 Juni 2012, menjadi momentum bersejarah bagi kota kecil Bondowoso, yang menyelenggarakan event Internasional untuk pertama kalinya, mengenai pertukaran bahasa dan budaya dari seluruh dunia. Mengundang puluhan peserta yang tergabung dalam komunitas traveler dunia, untuk tinggal selama tiga hari 8 – 10 Juni 2012 di Kota Tape Bondowoso, mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Ijen Festival.

Festival skala internasional yang digagas oleh putra-putri daerah, yang tergabung dalam grup Bondowoso di jejaring social Facebook ini, merupakan salah satu ajang yang dikemas untuk meningkatkan serta mengenalkan potensi wisata yang ada di Bondowoso. Selain itu, ide cerdas ini juga bertujuan untuk meningkatkan wawasan serta kemampuan berbahasa masyarakat Bondowoso, khususnya pelajar.

Bekerjasama dengan sekolah MTs. At Taqwa Bondowoso dan didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso, event ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Bondowoso dan sekitarnya, bahkan kedepan akan diagendakan menjadi event tahunan Kabupaten Bondowoso, yang akan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke Bondowoso, serta diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Boleh dikatakan, Festival semacam ini adalah yang pertama di Indonesia, mungkin juga di dunia. Sesuai tag line dari Ijen Festival, The Languages & Cultures Exchange Festival, peserta diharuskan saling bertukar bahasa, belajar dan mengajar, sekaligus saling memperkenalkan budaya mereka masing-masing. Peserta juga diwajibkan mengikuti Lingua Culture Carnival, dalam karnaval tersebut, seluruh peserta menampilkan bahasa dan budaya dari negaranya masing-masing kepada seluruh masyarakat yang menonton di sepanjang jalan kota Bondowoso.

Total peserta yang datang adalah 50 orang, dari 54 peserta yang sudah terpilih. Ada 17 warga Negara asing dari 12 Negara meliputi Prancis, Italy, Lithuania, Estonia, Czech, Polandia, Yunani, Iran, Uzbeckistan, Pakistan, Brunai Darussalam, dan Filipina, serta  33 warga Indonesia dari berbagai daerah, Bandung, Jogjakarta, Sumatera Barat, Surabaya, Madura, Jember hingga Lumajang. Seluruh peserta menginap di rumah warga – orang tua siswa dan dituntut untuk saling berinteraksi dan bertukar budaya. Sesi inilah yang dinilai peserta paling menarik, karena belum ada festival yang melakukan hal tersebut.

Hari pertama, kegiatan peserta lebih difokuskan pada perkenalan antar peserta, host, siswa dan pendukung acara, selain itu mereka juga disuguhi berbagai macam penampilan kesenian budaya khas Bondowoso dalam rangkaian acara Opening Ceremony di Pendopo Bupati Bondowoso. Tak kalah menarik, peserta juga diajak untuk bermain-main dalam game interaktif yang dinamai “Polyglot game”.


Polyglot Interactive Game
Kata polyglot merupakan istilah yang diberikan kepada seseorang atau komunitas pengguna atau yang menguasai lebih dari satu bahasa. Oleh karena itu, dalam game ini, seluruh peserta dan siswa secara tidak langsung akan saling belajar, bermain, dan mengenal berbagai istilah kata-kata baru dari berbagai bahasa, mulai bahasa asing hingga bahasa lokal daerah. Metode pembelajaran seperti ini, dirasa sangatlah tepat bagi siswa, selain menarik, interaktif, langsung dari native speaker nya juga menyenangkan, tidak ada lagi istilah “guru killer” dalam belajar bahasa asing.

Hari kedua, seluruh peserta dan siswa dari berbagai sekolah memenuhi jalanan sekitar kota Bondowoso, melakukan parade bahasa dan budaya. Dalam karanval tersebut, peserta Ijen Festival berkeliling kota Bondowoso, sambil mengucapkan beberapa kata-kata yang telah dipilih panitia, dalam bahasa mereka masing-masing. Selain itu peserta juga menggunakan pakaian khas atau kostum kreatif cermin budaya mereka.

Riuh ramai menyemarakkan pawai budaya pagi itu, peserta tak tanggung-tanggung dalam menghibur penonton, mereka menunjukkan atraksi tari-tarian di jalanan, dan yang tak kalah serunya seluruh siswa membawa bendera merah putih melambai-lambaikan pada peserta. Suasana hangat dan ramah sesuai dengan tema besar yang diusung festival kali ini, The Hospitality of The World.

Lepas dari kegiatan parade, peserta dihadiahi jalan-jalan gratis ke beberapa tempat wisata di Bondowoso, tujuan pertama adalah Kebun Kopi Kalisat Jampit, disana mereka dikenalkan pada proses pengolahan biji Kopi Arabica, Bulan Juni adalah bulannya panen raya Kopi Arabica, berdasarkan info dari PTPN XII, kopi perkebunan Jampit Bondowoso, adalah kopi terbaik di dunia, tak salah jika banyak penikmat kopi, seringkali datang berkunjung ke sini hanya untuk merasakan nikmatnya kopi nomor satu dunia.

Kopi unggulan dari perkebunan ini adalah kopi luwak, peserta juga diajak mengunjungi pusat pengawasan pemeliharaan luwak yang juga menjadi satu dengan kawasan Hotel Arabica di Pabrik Kopi Kalisat Jampit. Disana juga ada perkebunan strawberry yang panen setiap hari Kamis.

Menjelang tengah malam, peserta diajak mendaki ke kawah Ijen, start dari Pal Tuding, Sempol Bondowoso, ke-50 peserta sangat antusias meski hawa dingin hingga 12oC menusuk tulang. Ini adalah spot utama yang mereka ingin datangi. Api biru yang menjadi daya tarik Kawah Ijen, membuat peserta benar-benar terpesona akan kecantikan kawah Ijen. Untuk dapat melihat api biru, pendakian minimal dilakukan pada pukul 11 malam, karena menjelang dini hari sekitar jam 3 pagi, api biru sudah tidak terlihat.

photo courtesy by : Bosamba Rafting team
Puas dengan panorama yang ditawarkan kawah ijen, peserta masih ditantang lagi keberaniannya untuk mengarungi jeram di kawasan Arung Jeram Bosamba (Bosamba Rafting) di daerah Taman Krocok Wonosari Bondowoso. Melihat wajah-wajah lelah dari peserta setelah turun dari Kawah Ijen, panitia mencoba berkelakar… “Masih ingin lanjut rafting atau langsung pulang nih…” sontak jawaban kompak peserta …”Lanjutttt… “

Gerimis petang itu, tak sedikitpun mengurangi keceriaan peserta untuk terus beraktivitas, hingga tiba waktunya pulang dan saling berpamitan. Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi.


“Dan pada riak jeram kularungkan segala rasa, terpias birunya binar kebahagiaan dalam kisi-kisi percikan air memecah bekunya jiwa”
thumbnail
About The Author

Erick Abdullah: Seorang pembelajar yang sedang berproses dan terus berjalan mengikuti jejak langkah khatulistiwa, mewarnai dunia dengan setiap karunia Tuhan yang sedang dianugerahkan, hingga kelak saat yang telah ditentukan.

4 komentar

  1. aaaaaaah ngences liat ijen dan mupeng pengen rafting huuuuuuuuuuuuft...

    ReplyDelete
  2. Sukses ya mba^^
    semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi pesertanya

    ReplyDelete
  3. terima kasih :)
    Amin semoga lebih baik

    ReplyDelete

Leave me a message please